Sahabat

Standar

Sahabat merupakan sebuah kata yang akan mengikat antara seseorang atau beberapa orang dengan orang lain karena kedekatan dan keakrabannya. Sahabat terkadang membuat seseorang yang berada di tempat yang jauh menjadi dekat. Dan seorang sahabat juga akan memberikan jalan keluar ketika melihat sahabatnya mempunyai masalah. Sahabat ialah orang yang rela menderita demi kebaikan dan kebahagiaan sahabatnya, dan rela berkorban demi menolong sahabatnya.

Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Sahabatmu yang sejati adalah siapa yang setia bersamamu, yang rela menderita demi kebaikanmu, yang mendatangimu apabila engkau ditimpa musibah dan yang bersedia berkorban demi menolongmu.

Persahabatan merupakan sebuah ikatan yang dimulai dari sebuah pertemuan. Atau persahabatan juga bisa terjalin lewat sebuah perkenalan baik secara langsung maupun lewat, telpon, facebook, atau semacamnya. Perbedaan antara suku bangsa dan bahasa bukanlah suatu hal yang menghalangi kita untuk saling kenal mengenal untuk menjalin sebuah persahabatan. Namun sebaliknya, perbedaan suku, bangsa dan bahasa merupakan sebuah alat untuk salik mengenal antara sesama hamba Allah. Sebagaimana, tujuan penciptaan manusia secara berbangsa-bangsa atau bersuku-suku  tertulis dalam Alquran surah Al-Hujutat : 13, yang berbunyi:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya:

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al Hujurat: 13).

Sahabat ialah orang yang berani mangatakan hitam adalah hitam dan putih adalah putih atau Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman, tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan dengan tujuan sahabatnya mau berubah. Banyak orang yang rela berbohong kepada sahabatnya untuk menjaga hati sahabatnya supaya tidak kecewa, dan tidak sedikit dari mereka yang mengatakan apa adanya sehingga sahabatnya kecewa, atau bahkan hubungan persahatan akhirnya terputus. Tapi yang terbaik adalah seorang sahabat mengingatkan sahabatahnya ketika sahabatnya sedang gembira atau senang, dan tidak di halayak ramai atau kira-kira tidak membuat hatinya tersinggung.

Abu Dzarr al-Ghiffari radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kesendirian lebih baik daripada sahabat yang berakhlaq buruk dan sahabat yang berakhlaq baik lebih baik daripada kesendirian.

Alangkah indahnya sebuah persahabatan yang saling mencintai karena Allah. Saling mengunjungi bukan karena mengharapkan ridha Sang Maha Pencipta. Sebaimana yang dikisahkan oleh Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam, dalam Sabdanya yang artinya:

“Pada saat seseorang berkunjung kepada sahabatnya karena Allah swt, maka Allah swt akan mengirimkan malaikat dengan diam-diam kepadanya untuk menanyakan ‘Apa yang akan engkau lakukan? ‘Lalu ia menjawab, ‘Aku mau mengunjungi saudaraku.’ Malaikat brtanya kembali,’ Apakah engkau ada keperluan? jawabnya, ‘Tidak ada.’ Malaikat melanjutkan, ‘Apakah karena ia ada hubungan kerabat denganmu?’ Jawabnya lagi, ‘Tidak.’ Sambung malaikat, ‘Apakah karena ia telah memberikan sesuatu kepadamu?’ Jawabnya, ‘Tidak.’ Tanya malaikat kemudian, ‘Kalau begitu karena apa engkau mengunjunginya?’ ia menjawab,’ Aku mengasihinya karena Allah swt..’Lalu malaikat berkata kepadanya,’ Sesungguhnya Allah swt mengutus aku kepadamu untuk menyampaikan berita bahwa Dia mengasihimu seperti engkau mengasihinya, dan bahwa surga akan dianugerahkan kepadamu.” HR. Muslim dari Abu Hurairah ra.

Subhanallah, alangkah indahnya sebuah persahabatan yang dilandaskan karena Allah Swt. bukan karena mengharapkan harta, pangkat dan tahta saja, atau dunia semata. Allah telah menjanjikan persahabatan seperti ini dengan surga, dan kasih sayang Allah kepadanya sebagaimana ia mengasihi sahabatnya. Sungguh mulia persahabatan yang dilandaskan karena Allah.

Allah juga mengisahkan para sahabat ansor dan muhajirin di dalam Alquran, karena bagaiman mereka mendapatkan anugrah dan ampunan serta ridha dari Allah

وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (١٠٠)

Artinya:

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah: 100)

Muhajirin dalam ayat ini adalah mereka yang berhijrah dengan mengharap ridha Allah dan bukan karena hal lain. Anshar dalam ayat ini adalah mereka dari kalangan kaum Anshar yang dengan ridha menyambut Nabi Saw. Mereka dipersaudarakan atau dipersahabakan karena Allah. Mereka saling tolong-menolong karena mengharapkan ridha Allah. Mereka rela memberikan sebagian hartanya, bahkan istri kesayangannya demi sahabat.

Dalam sebuah ungkapan disebutkan bahwa “Persahabatan adalah satu jiwa dalam dua raga”. Seorang sahabat akan mengetahui apa yang diinginkan oleh sahabatnya. Seorang sahabat juga akan merasakan apa yang dirasakan oleh sahabatnya, senang maupun sedih, suka maupun duka. Seorang sahabat akan merasakan apa yang dirasakan oleh sahabatnya, karena mereka sudah menyatu dalam satu jiwa.

Persahabatan terkadang terdengar aneh, namun begitulah nyatanya. Sahabat akan mampu membaca isi hati sahabatnya, dan mengerti apa yang diinginkan sahabatnya. Sampai-sampai orang mengatakan bahwa “Seorang sahabat adalah yang dapat mendengarkan lagu didalam hatimu, dan menyanyikan kembali tatkala kau lupa akan bait-baitnya”.

Semoga tulisan yang singkat ini bisa bermanfaat penulis bagi pada khususnya dan pembaca pada umumnya.

Hati-Hati Memilih Temen

Standar

Sebuah kata yang kita kenal dalam bahasa arab dengan ikhwan atau akhwat(saudara laki/Saudara perempuan), atau sering kita dengar sebagai qarib karena kedekatan kita kepada seseorang tersebut.

Setiap orang sangat membutuhkan sorang teman. Karena dengan teman seseorang akan merasa terhibur ketika sedih, akan merasa tenang apabila bersamanya. Seorang teman juga memperingatkan ketika melakukan sesuatu yang salah. Seorang teman bukan malah sebaliknya, membuat kita sedih ketika kita sedang sedih, meransa tidak nyaman ketika bersamanya, dan membiarkan kita tetap dalam kesalahan.

Seorang teman yang baik ialah yang selalu memberikan semangat ketika kita melakukan sesuatu pekerjaan. Memberikan semangat ketika semangat kita kendor. Menujukan jalan keluar ketika dalam kesulitan. Teman seperti ini lah  Seorang teman seperti inilah yang pantas dan patut kita hormati dan hargai. Sebagai mana kisah pertemanan seseorang karena Allah yang dikisahkan dalam Alquran, surah Thaaha, Ayat, 29-35:

وَاجْعَلْ لِي وَزِيرًا مِنْ أَهْلِي (٢٩)هَارُونَ أَخِي (٣٠)اشْدُدْ بِهِ أَزْرِي (٣١)وَأَشْرِكْهُ فِي أَمْرِي (٣٢)كَيْ نُسَبِّحَكَ كَثِيرًا (٣٣)وَنَذْكُرَكَ كَثِيرًا (٣٤)إِنَّكَ كُنْتَ بِنَا بَصِيرًا (٣٥)

Artinya:

  1. Dan Jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku,30. (yaitu) Harun, saudaraku,31. Teguhkanlah dengan Dia kekuatanku,32. Dan jadikankanlah Dia sekutu dalam urusanku,33. Supaya Kami banyak bertasbih kepada Engkau,34. Dan banyak mengingat Engkau.35. Sesungguhnya Engkau adalah Maha melihat (keadaan) kami”.

Kemudian seorang teman yang baik ialah teman yang selalu memaafkan ketika melakukan salah padanya. Seorang teman tidak akan mungkin selalu berbuat baik dan tidak mungkin juga selalu berbuat salah, karena manusia itu mahallul khatha wan nisyan ( tempat salah dan lupa).

وَلَمَّا رَجَعَ مُوسَى إِلَى قَوْمِهِ غَضْبَانَ أَسِفًا قَالَ بِئْسَمَا خَلَفْتُمُونِي مِنْ بَعْدِي أَعَجِلْتُمْ أَمْرَ رَبِّكُمْ وَأَلْقَى الألْوَاحَ وَأَخَذَ بِرَأْسِ أَخِيهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ قَالَ ابْنَ أُمَّ إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُونِي وَكَادُوا يَقْتُلُونَنِي فَلا تُشْمِتْ بِيَ الأعْدَاءَ وَلا تَجْعَلْنِي مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (١٥٠)

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلأخِي وَأَدْخِلْنَا فِي رَحْمَتِكَ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ (١٥١)

Artinya:

  1. Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia: “Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu[1]? dan Musapun melemparkan luh-luh[2] (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya, Harun berkata: “Hai anak ibuku, Sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan Hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim”
  2. Musa berdoa: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah Kami ke dalam rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara Para Penyayang”.

Sungguh luar biasa seorang teman, yang mampu membantu kita ketika kita membutuhkannya, bukan menjauh ketika kita membutuhkannya. Sesuai dengan sebuah pepatah “Teman yang paling baik adalah apabila kamu melihat wajahnya, kamu teringat akan Allah, mendengar kata-katanya menambahkan ilmu agama, melihat gerak-gerinya teringat mati.”

Dan didalam alquran Allah telah mengajarkan kepada kita semua, bahwa teman kita di dunia akan berssama kita diakhirat. Oleh karena itu, memilih teman yang jelek akan menyebakan rusak agama seseorang. Jangan sampai kita menyesal pada hari kiamat nanti karena pengaruh teman yang jelek sehingga tergelincir dari jalan kebenaran dan terjerumus dalam kemaksiatan. Renungkanlah firman Allah berikut :

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَاناً خَلِيلاً لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولاً

Artinya:

“ Dan ingatlah ketika orang-orang zalim menggigit kedua tanganya seraya berkata : “Aduhai kiranya aku dulu mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besar bagiku. Kiranya dulu aku tidak mengambil fulan sebagai teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an sesudah Al Qur’an itu datang kepadaku. Dan setan itu tidak mau menolong manusia” (Al Furqan:27-29)

Alangkah pentingnya memilih temen, sampai-sampai Allah memberikan perumpamaan di dalam al Qur’an. karena temen di dunia yang kita ajak bermain akan bersama kita juga kelak di akhirat. Rasulullah Juga Bersabda

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيْرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيْرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhori & Muslim).

semoga dengan tulisan ini kita bisa mendapatkan teman terbaik supaya bisa bersamanya di dunia dan akhirat

[1]           Maksudnya: Apakah kamu tidak sabar menanti kedatanganku kembali sesudah munajat dengan Tuhan sehingga kamu membuat patung untuk disembah sebagai menyembah Allah?

[2]           Luh Ialah: kepingan dari batu atau kayu yang tertulis padanya isi Taurat yang diterima Nabi Musa a.s. sesudah munajat di gunung Thursina.

Hati-Hati dalam Memilih Temen

Standar

Sebuah kata yang kita kenal dalam bahasa arab dengan ikhwan atau akhwat(saudara laki/Saudara perempuan), atau sering kita dengar sebagai qarib karena kedekatan kita kepada seseorang tersebut.

Setiap orang sangat membutuhkan sorang teman. Karena dengan teman seseorang akan merasa terhibur ketika sedih, akan merasa tenang apabila bersamanya. Seorang teman juga memperingatkan ketika melakukan sesuatu yang salah. Seorang teman bukan malah sebaliknya, membuat kita sedih ketika kita sedang sedih, meransa tidak nyaman ketika bersamanya, dan membiarkan kita tetap dalam kesalahan.

Seorang teman yang baik ialah yang selalu memberikan semangat ketika kita melakukan sesuatu pekerjaan. Memberikan semangat ketika semangat kita kendor. Menujukan jalan keluar ketika dalam kesulitan. Teman seperti ini lah  Seorang teman seperti inilah yang pantas dan patut kita hormati dan hargai. Sebagai mana kisah pertemanan seseorang karena Allah yang dikisahkan dalam Alquran, surah Thaaha, Ayat, 29-35:

وَاجْعَلْ لِي وَزِيرًا مِنْ أَهْلِي (٢٩)هَارُونَ أَخِي (٣٠)اشْدُدْ بِهِ أَزْرِي (٣١)وَأَشْرِكْهُ فِي أَمْرِي (٣٢)كَيْ نُسَبِّحَكَ كَثِيرًا (٣٣)وَنَذْكُرَكَ كَثِيرًا (٣٤)إِنَّكَ كُنْتَ بِنَا بَصِيرًا (٣٥)

Artinya:

  1. Dan Jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku,30. (yaitu) Harun, saudaraku,31. Teguhkanlah dengan Dia kekuatanku,32. Dan jadikankanlah Dia sekutu dalam urusanku,33. Supaya Kami banyak bertasbih kepada Engkau,34. Dan banyak mengingat Engkau.35. Sesungguhnya Engkau adalah Maha melihat (keadaan) kami”.

Kemudian seorang teman yang baik ialah teman yang selalu memaafkan ketika melakukan salah padanya. Seorang teman tidak akan mungkin selalu berbuat baik dan tidak mungkin juga selalu berbuat salah, karena manusia itu mahallul khatha wan nisyan ( tempat salah dan lupa).

وَلَمَّا رَجَعَ مُوسَى إِلَى قَوْمِهِ غَضْبَانَ أَسِفًا قَالَ بِئْسَمَا خَلَفْتُمُونِي مِنْ بَعْدِي أَعَجِلْتُمْ أَمْرَ رَبِّكُمْ وَأَلْقَى الألْوَاحَ وَأَخَذَ بِرَأْسِ أَخِيهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ قَالَ ابْنَ أُمَّ إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُونِي وَكَادُوا يَقْتُلُونَنِي فَلا تُشْمِتْ بِيَ الأعْدَاءَ وَلا تَجْعَلْنِي مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (١٥٠)

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلأخِي وَأَدْخِلْنَا فِي رَحْمَتِكَ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ (١٥١)

Artinya:

  1. Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia: “Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu[1]? dan Musapun melemparkan luh-luh[2] (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya, Harun berkata: “Hai anak ibuku, Sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan Hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim”
  2. Musa berdoa: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah Kami ke dalam rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara Para Penyayang”.

Sungguh luar biasa seorang teman, yang mampu membantu kita ketika kita membutuhkannya, bukan menjauh ketika kita membutuhkannya. Sesuai dengan sebuah pepatah “Teman yang paling baik adalah apabila kamu melihat wajahnya, kamu teringat akan Allah, mendengar kata-katanya menambahkan ilmu agama, melihat gerak-gerinya teringat mati.”

Dan didalam alquran Allah telah mengajarkan kepada kita semua, bahwa teman kita di dunia akan berssama kita diakhirat. Oleh karena itu, memilih teman yang jelek akan menyebakan rusak agama seseorang. Jangan sampai kita menyesal pada hari kiamat nanti karena pengaruh teman yang jelek sehingga tergelincir dari jalan kebenaran dan terjerumus dalam kemaksiatan. Renungkanlah firman Allah berikut :

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَاناً خَلِيلاً لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولاً

Artinya:

“ Dan ingatlah ketika orang-orang zalim menggigit kedua tanganya seraya berkata : “Aduhai kiranya aku dulu mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besar bagiku. Kiranya dulu aku tidak mengambil fulan sebagai teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an sesudah Al Qur’an itu datang kepadaku. Dan setan itu tidak mau menolong manusia” (Al Furqan:27-29)

Alangkah pentingnya memilih temen, sampai-sampai Allah memberikan perumpamaan di dalam al Qur’an. karena temen di dunia yang kita ajak bermain akan bersama kita juga kelak di akhirat. Rasulullah Juga Bersabda

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيْرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيْرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhori & Muslim).

semoga dengan tulisan ini kita bisa mendapatkan teman terbaik supaya bisa bersamanya di dunia dan akhirat

[1]           Maksudnya: Apakah kamu tidak sabar menanti kedatanganku kembali sesudah munajat dengan Tuhan sehingga kamu membuat patung untuk disembah sebagai menyembah Allah?

[2]           Luh Ialah: kepingan dari batu atau kayu yang tertulis padanya isi Taurat yang diterima Nabi Musa a.s. sesudah munajat di gunung Thursina.

Indahnya Kesabaran

Standar

Hidup adalah anugrah dari Yang Maha Bijaksana, dan setiap makhluk yang hidup pasti akan mendapatkan ujian dan cobaan terutama umat manusia. Orang yang mendapat ujian berarti orang tersebut akan diangkat derajatnya oleh Allah, apabila ia mampu melewatinya.

Ujian yang Allah cipta bagi umat manusia beraneka ragamnya. Terkadang ujian berupa sesuatu hal yang  kita benci, namun tidak jarang juga ujian itu berupa suatu hal yang kita senangi. Ujian itu tidak memilih apakah itu orang kaya maupun miskin, tua maupun muda, pejabat maupun rakyat jelata, oleh karena itu bersiaplah untuk menghadapi ujian.

Allah memberikan ujian dan cobaan sesuai dengan keadaan, kondisi dan kemampuan hambanya. Seorang pemimpin diuji dengan musibah yang meimpa rakyatnya, seperti banjir yang merendam pemukiman, tanah longsor yang memakan korban jiwa, terorime yang meraja lela. Seorang petani yang diuji oleh Allah dengan hama penyakit yang menyerang tanamannya atau kekeringan yang berkepanjangan sehingga gagal panen.

Di dalam al Qur’an Allah menjelaskan tentang cobaan – cobaan yang ditimpakan kepada bani adam yang disebutkan dalam Al Qur’an surah Al Baqarah Ayat 155 yang berbunyi:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ٢:١٥٥

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ٢:١٥٦

أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ ٢:١٥٧

Artinya:

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,”Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. [al Baqarah/2:155-157]

Ayat di atas memberikan isyarat kepada kita semua bahwa ternyata, hidup ini bukanlah sebuah danau kecil yang airnya tenang tak berombak. Namun, hidup ini bagai samudra nan luas tak bertepi yang ombaknya bisa menenggelamkan kapal raksasa sekalipun.

Hidup ini memang indah bagi mereka yang menikmati sesuai dengan apa yang diperintah Allah, karena segala sesuatu adalah milik  Allah. Air yang kita minum, udara yang kita hirup, buah buahan yang kita makan, semuanya adalah milik Allah. Maka sepantasnyalah kita harus mentaati perintahnya kalau kita ingin menikmati hidup ini.

Namun bisa juga hidup ini seperti neraka yang panas membakar jiwa yang penuh dengan dosa, itu bagi mereka yang haus akan harta dan diperbudak oleh jabatan. Harta dan jabatan terkadang dipertuhankan seakan tidak bisa hidup tanpa keduanya. Terkadang juga dunia terasa hampa dan hidup terasa sepi, bagi mereka yang selalu mengidam-idamkan keduanya.

Kemudian Allah menutup ayat 155 di atas dengan informasi “berikanlah berita gembira bagi orang-orang yang bersabar. Rasulullah SAW bersabda:

“Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah ’Azza wa jalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah.” (HR. Tirmidzi).

Allah maha adil dan maha bijaksana, maka ia tidak akan menguji Hambanya melebihi kemampuan hambanya. Mana yang kuat dan mana yang lemah. Mana yang tua dan mana yang muda. Dan mana yang kaya dan mana yang miskin.

Dan sudah seharusnya kita menjadikan ujian yang datang sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah yang Maha Memiliki semua jawaban atas setiap permasalahan hidup kita. Ujian yang datang membuktikan bahwa diri kita ini begitu lemah, sehingga kita membutuhkan pertolongan Allah SWT. Ujian yang datang bukan karena Allah benci kepada kita, tapi sungguh karena Allah sayang kepada kita.

Firman Allah SWT yang begitu indah ini,

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ (1) وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ (2) الَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ (3) وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ (4) فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (5) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِيُسْرًا (6) فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ (7) وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ (8(

Artinya:

“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan Kami telah menghilangkan darimu bebanmu? Yang memberatkan punggungmu. Dan Kami tinggikan bagimu sebutanmu. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan yang lain). Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap”. (QS.Al Insyirah/94:1-8)

jadi, bersabarlah karena orang-orang yang sabar Insya Allah akan mendapat rahmat dari Allah dan mendapat petunjuk atas masalah yang dihadapi.

Ambilah hikmah dalam setiap cobaan yang kita alami, sesungguhnya ketika mendapat ujian dari Allah, Allah akan menghapuskan perbuata buruk dan mengampuni dosa kita. seperti yang tertulis dalam hadist dibawah ini.

“Sesungguhnya pahala yang besar itu, bersama dengan cobaan yang besar pula. Dan apabila Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan menimpakan musibah kepada mereka. Barangsiapa yang ridha maka Allah akan ridha kepadanya. Dan barangsiapa yang murka, maka murka pula yang akan didapatkannya.” (HR. Tirmidzi, dihasankan al-Albani dalam as-Shahihah [146])

Subhanallah betapa mulianya sebuah “kesabaran”, didalam Alqur’an surah Az-Zumar juga disebutkan:

“Sesungguhnya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan ganjaran/pahala mereka tanpa batas.” (Az Zumar: 10)

Semoga tulisan yang sangat sederhana ini bias berguna dan bermanfaat bagi penulis peribadi dan pembaca pada umumnya.

Keutamaan Silaturrahim

Standar

Sebelum tulisan ini lebih jauh menjelaskan tentang makna kata silaturrahim, alangkah baiknya kita memehami apa yang dimaksud dengan silaturrahim. Ini penting supaya tidak keliru dalam memahami silaturrahim. Tidak menimbulkan perdebatan yang menghebohkan karena salah memahami makna silaturrahim, terutama antara kata silaturrahim dengan silaturrahmi.
Kata silaturrahmi berasal dari kata silah dan rahmi, silah artinya menyambung, sedangkan rahmi artinya rasa nyeri yang dirasakan ketika ibu mau melahirkan. Jadi, silaturrahmi bisa dipahami dengan menyambung rasa nyeri. Makna ini terdengar lucu tetapi aneh, namun begitulah artinya dalam bahasa arab.
Sedangkan kata silaturrahim berasal dari kata silah dan rahim, silah artinya menyambung, sedangkan rahim artinya kasih sayang, jadi silaturrahim artinya dalam bahasa arab menyambung kasihsayang. Teman maupun kerabat yang jauh akan menjadi dekat dengang terjalinnya silaturrahim. Dengan terjalinnya hubungan silaturrahim yang baik dan karena Allah akan menjadikan dua orang saling mencintai, dan mendapatkan ridha Allah swt. dan mendapat surga-Nya Allah Swt. sebagaimana dalam sabda rasulullah saw, yang berbunyi:
“Pada saat seseorang berkunjung kepada sahabatnya karena Allah swt, maka Allah swt akan mengirimkan malaikat dengan diam-diam kepadanya untuk menanyakan ‘Apa yang ia lakukan? ‘Lalu ia menjawab, ‘Aku mau mengunjungi saudaraku.’ Malaikat brtanya kembali,’ Apakah engkau ada keperluan? jawabnya, ‘Tidak ada.’ Malaikat melanjutkan, ‘Apakah karena ia ada hubungan kerabat denganmu?’ Jawabnya lagi, ‘Tidak.’ Sambung malaikat, ‘Apakah karena ia telah memberikan sesuatu kepadamu?’ Jawabnya, ‘Tidak.’ Tanya malaikat kemudian, ‘Kalau begitu karena apa engkau mengunjunginya?’ ia menjawab,’ Aku mengasihinya karena Allah swt..’Lalu malaikat berkata kepadanya,’ Sesungguhnya Allah swt mengutus aku kepadamu untuk menyampaikan berita bahwa Dia mengasihimu seperti engkau mengasihinya, dan bahwa surga akan dianugerahkan kepadamu.” HR. Muslim dari Abu Hurairah ra.
Setelah kita mengetahui makna dari kedua kata yaitu silaturrahmi dan silaturrahim, yang manakah di antara keduanya yang pantas digunakan? Adapun pendapat yang pertama yang pantas ialah silaturrahim karena maknanya sesuai dengan bahasa arab yaitu menyambung hubungan kasih sayang, atau menyambung hubungan kekeluargaan, baik terhadap orang yang dekat dengan lingkungan kita, maupun orang yang jauh sekalipun.
Sedangkan menurut pendapat yang kedua tetap menggunakan kata silaturrahmi karena kata silaturrahmi merupakan bahasa Indonesia yang diadopsi dari bahasa arab dan sudah diakui oleh lembaga bahasa indonesia. Bukan bahasa arab lagi. Kasus ini sama halnya dengan kata qalbun (yang berarti hati dalam bahasa arab) dengan kalbun (yang berarti anjing dalam bahasa arab), namun setelah diadopsi oleh bahasa indonesia antara qolbun ditulis dengan memakai huruf “k” yang berarti anjing seperti contoh “menejemen kalbun”.
Pada hakikatnya silaturrahim ialah sesuai dengan sabda Rasulullah Saw:

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,

“لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنْ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا”.

“Penyambung silaturrahmi (yang hakiki) bukanlah orang yang menyambung hubungan dengan kerabat manakala mereka menyambungnya. Namun penyambung hakiki adalah orang yang jika hubungan kerabatnya diputus maka ia akan menyambungnya”. HR. Bukhari dari Abdullah bin ‘Amr.
Kemudian ada beberapa ayat dalam Alqur’an yang menganjurkan untuk selalu menjaga hubungan silaturrahim, di antaranya dalam surah Annisa ayat satu, yang berbunyi:

› يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي َسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

› Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.
Sedangkan ancaman bagi mereka yang memutuskan hubungan silaturrahim disebutkan di dalam surah muhammad ayat 22-23 yang berbunyi:

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي اْلأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ . أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ
“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dila’nati Allah dan Allah tulikan telinga mereka dan Allah butakan penglihatan mereka”. [Muhammad:22-23].
Kemudian dalam hadis juga disebutkan bahwa:
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ

“Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan silaturrahmi”. [HR Bukhari 5984 dan Muslim 2556].

Dalam hadis lain Rasulullah saw. bersabda: “Demi zat yang jiwaku berada dalam genggamanNya, kalian tidak akan masuk syurga sebelum beriman, dan kalian tidaklah beriman sebelum saling mencintai. Maukah aku tunjukan sesuatu, jika kalian mengerjakannya, maka akan timbul saling mencintai di antara kalian. Yaitu sebarkanlah SALAM’ (HR. Muslim)
Sungguh perbuatan yang sangat dibenci Allah mereka yang memutuskan hubungan silaturrahim, sehingga diancem dengan tidak akan masuk ke dalam surgannya Allah Swt.
Namun dalam hal ini juga ada keutamaan yang sangan besar bagi mereka yang senang akan menyambung silaturrahim di antarannya yaitu:
Dilapangkan rizkinnya dan dipanjangkan umurnya
Hal ini dijelaskan dalam hadis sohih yang berbunyi:

“مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ؛ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ”.

“ Barang siapa menginginkan untuk diluaskan rizkinya serta diundur ajalnya; hendaklah ia bersilaturrahim”. HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik.
Hadits tadi seakan kontradiktif dengan firman Allah ta’ala,

“وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاء أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُونَ”.

Artinya: “Setiap umat mempunyai ajal. Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun”. QS. Al-A’raf: 34.
Penafsiran yang pertama adalah Pengunduran ajal merupakan kiasan dari keberkahan umur. Atau dengan kata lain, silaturrahmi menjadikan seseorang meraih taufik untuk berbuat ketaatan dan menjauhi maksiat; sehingga namanya tetap harum, walaupun telah meninggal dunia. Sehingga seakan-akan ia belum mati.
Kemudian penafsiran kedua adalah Silaturrahim memang nyata benar-benar menambah umur dan mengundur ajal seseorang.

Dan waktu ajal yang dimaksud dalam hadits di atas adalah apa yang tertulis dalam ‘catatan’ malaikat penganggung jawab umur. Sedangkan waktu ajal yang dimaksud dalam ayat adalah apa yang ada dalam ilmu Allah (lauh al-mahfuzh).

HIDUP ADALAH UJIAN

Standar

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
Yang menciptakan mati dan hidup” untuk menguji kamu siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan dia maha perkasa, lagi maha pengampun.’’ (QS. Al Mulk Ayat: 2)

Hidup adalah anugrah yantg terbesar dari Yang Maha Bijaksana. Setiap makhluk yang hidup pasti akan mendapatkan ujian dan cobaan terutama umat manusia. Orang yang mendapat ujian berarti orang tersebut akan diangkat derajatnya oleh Allah, apabila ia mampu melewatinya.
Ujian yang Allah berikan kepada umat manusia beraneka ragamnya. Terkadang ujian berupa sesuatu hal yang ia benci, namun tidak jarang juga ujian itu berupa suatu hal yang ia senangi. Ujian itu tidak memilih apakah itu orang kaya maupun miskin, tua maupun muda, pejabat maupun rakyat jelata, oleh karena itu bersiaplah untuk menghadapi ujian.
Allah memberikan ujian dan cobaan sesuai dengan keadaan, kondisi dan kemampuan hambanya. Seorang pemimpin diuji dengan musibah yang meimpa rakyatnya, seperti banjir yang merendam pemukiman, tanah longsor yang memakan korban jiwa, terorime yang meraja lela. Seorang petani yang diuji oleh Allah dengan hama penyakit yang menyerang tanamannya atau kekeringan yang berkepanjangan sehingga gagal panen.
Di dalam al Qur’an Allah menjelaskan tentang cobaan – cobaan yang ditimpakan kepada bani adam yang disebutkan dalam Al Qur’an surah Al Baqarah Ayat 155 yang berbunyi:
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ٢:١٥٥
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ٢:١٥٦
أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ ٢:١٥٧
Artinya:
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,”Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. [al Baqarah/2:155-157]
Ayat di atas memberikan isyarat kepada kita semua bahwa ternyata, hidup ini bukanlah sebuah danau kecil yang airnya tenang tak berombak. Namun, hidup ini bagai samudra nan luas tak bertepi yang ombaknya bisa menenggelamkan kapal raksasa sekalipun.
Hidup ini memang indah bagi mereka yang menikmati sesuai dengan apa yang diperintah Allah, karena segala sesuatu adalah milik Allah. Air yang kita minum, udara yang kita hirup, buah buahan yang kita makan, semuanya adalah milik Allah. Maka sepantasnyalah kita harus mentaati perintahnya kalau kita ingin menikmati hidup ini.
Namun bisa juga hidup ini seperti neraka yang panas membakar jiwa yang penuh dengan dosa, itu bagi mereka yang haus akan harta dan diperbudak oleh jabatan. Harta dan jabatan terkadang dipertuhankan seakan tidak bisa hidup tanpa keduanya. Terkadang juga dunia terasa hampa dan hidup terasa sepi, bagi mereka yang selalu mengidam-idamkan keduanya.
Kemudian Allah menutup ayat 155 di atas dengan informasi “berikanlah berita gembira bagi orang-orang yang bersabar. Rasulullah SAW bersabda:
“Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah ’Azza wa jalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah.” (HR. Tirmidzi).
Allah maha adil dan maha bijaksana, maka ia tidak akan menguji Hambanya melebihi kemampuan hambanya. Mana yang kuat dan mana yang lemah. Mana yang tua dan mana yang muda. Dan mana yang kaya dan mana yang miskin.
Seorang nabi tentunya tidak akan sama ujian yang akan diberikan dengan orang-orang yang memiliki kadar keimanan yang biasa-biasa saja. Begitu pun juga halny dengan seorang pejabat yang tinggi Negara, taruhlah seorang peresiden, tentunya ujian yang akan dihadapi oleh seorang peresiden akan lebih besar dari pada seorang rakyat jelata.
Dan sudah seharusnya kita menjadikan ujian yang datang sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah yang Maha Memiliki semua jawaban atas setiap permasalahan hidup kita. Ujian yang datang membuktikan bahwa diri kita ini begitu lemah, sehingga kita membutuhkan pertolongan Allah SWT. Ujian yang datang bukan karena Allah benci kepada kita, tapi sungguh karena Allah sayang kepada kita.
Firman Allah SWT yang begitu indah ini,
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ (1) وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ (2) الَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ (3) وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ (4) فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (5) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِيُسْرًا (6) فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ (7) وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ (8(
Artinya:
“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan Kami telah menghilangkan darimu bebanmu? Yang memberatkan punggungmu. Dan Kami tinggikan bagimu sebutanmu. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan yang lain). Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap”. (QS.Al Insyirah/94:1-8)
jadi, bersabarlah karena orang-orang yang sabar Insya Allah akan mendapat rahmat dari Allah dan mendapat petunjuk atas masalah yang dihadapi.
Ambilah hikmah dalam setiap cobaan yang kita alami, sesungguhnya ketika mendapat ujian dari Allah, Allah akan menghapuskan perbuata buruk dan mengampuni dosa kita. seperti yang tertulis dalam hadist dibawah ini.
“Sesungguhnya pahala yang besar itu, bersama dengan cobaan yang besar pula. Dan apabila Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan menimpakan musibah kepada mereka. Barangsiapa yang ridha maka Allah akan ridha kepadanya. Dan barangsiapa yang murka, maka murka pula yang akan didapatkannya.” (HR. Tirmidzi, dihasankan al-Albani dalam as-Shahihah [146])
Subhanallah betapa mulianya sebuah “kesabaran”, didalam Alqur’an surah Az-Zumar juga disebutkan:
“Sesungguhnya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan ganjaran/pahala mereka tanpa batas.” (Az Zumar: 10)
Semoga tulisan yang sangat sederhana ini bias berguna dan bermanfaat bagi penulis peribadi dan pembaca pada umumnya.

Don’t Waste Your Time

Standar

Kebingungan membuat seseorang untuk terus berusaha mencari tanpa harus berputus asa, tentang apa yang akan dilakukannya. Melewati rintangan yang menghadang silih berganti. Menghadapi masalah yang tentunya tidak akan pernah habisnya. Cercaan dan makianpun tiada henti dari mulut sebahagian orang yang melihatnya. Sehingga tak jarang orang yang putus asa, berpangku tangan, dan bahkan berhenti di tengah jalan karena tidak tahan dengan rintangan dan gelombang perjuangan. Namun orang yang pantang menyerah, semangant yang kuat, dan memiliki jiwa kesatria akan menghadapi dan melewati itu semua dengan gagah dan tanpa ada rasa takut sebagaimana layaknya seorang super hero.

Rasa kebingungan itu pun aku rasakan ketika aku ingin memulai sebuah tulisan yang sederhana. Setiap situasi aku coba untuk mengamati namun tiada satu pun yang dapan akun simpulkan sehingga menjadi sebuah artikel. Setiap berita di TV, SOSMED aku coba untukku ikuti, muali dari, bentroknya antara dua lembaga keaman Negara di batam, penengglaman kapal asing yang tidak mengantongi surat izin sebagai bentuk efek jera, belum lagi kekalahan timnas Indonesia dalam laga pertandingan melawan timna filipina hingga pembunuhan yang dilakukan oleh seorang kekasihnya dengan mencekiknya dalam sebuah mobil yang terparkir di bandara SOETA 2D.

Namun, dengan kejadian-kejadian tersebut, aku bisa mengambil sebuah kesimpulan bahwa, jangan biarkan waktumu terbuang sia-sia, lewat tanpa ada yang berarti dan dapat dirasakan manfaatnya oleh orang lain. Karena dalaalam sebuah hadis Rasulullahhu ‘alaihi wassalam bersabda:

خير الناس أنفعهم للناس

Artinya:

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni. Dishahihkan Al Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah)

Subhanallah, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Apakah kita akan menolong orang lain harus menunggu kaya? Tentu saja tidak. Menolong orang lain bisa dengan mengeluarkan ide yang baik, tentunya dengan saran maupun dengan nasihat-nasihat.

Orang yang terbaik di antara kalian adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain, namun bukan berarti perbuatan yang lain tidak baik akan tetapi ini merupakan sebuah penekanan betapa pentingnya solidaritas. Dengan banyak manfaat bagi bagi orang lain akan selalu dikenang dan diingat walaupun jasad sudah menjadi tanah.

Mari bersegera menanam kebaikan, menebar manfaat, saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan kepada Ilah, dan saling menasehati dalam kebenaran sehingga menjadi orang yang pandai dalam memanfaatkan waktu yang terbatas.

Berkaitan dengan waktu maka artikel sederhana ini aku beri judul “Don’t Waste Your Time” artinya Jangan Menyia-nyiakan Waktumu.

Setiap insan akan melewati dan merasakan yang namanya waktu. Baik itu waktu pagi siang, sore maupun malam. Sama sama memiliki 24 jam, tanpa ada yang didiscon, dan juga tanpa ada yang dilebihkan, baik itu anak seorang peresiden, mentri, DPR, maupun anak seorang petani atau bahkan seorang pengangguran sekalipun. Namun walaupun begitu, semua waktunya sama ada yang memperoleh kesuksesan dalam karirnya dan tak sedikit pula yang mengalami kegagalan, ada yang bahagian dalam hidupnya namun lebihnya orang yang masih hidupnya pas-pasan, atau bahkan untuk makan kesehariannya pun terasa sulit mendapatkannya. Sebenarnya itu semua salah siapa. apakah karena kita sudah ditakdirkan di zaman atau Apakah salahnya kita hidup di zaman sekarang ataukah karena kita kurang pandai dalam mengelola waktu ?

Sebenarnya kalo kita mencoba mengkaji dan memahami dari pedoman hidup yakni al Qur’an, maka pasti kita tidak akan gelisah, bingung, apalagi sampai bunuh diri karena prustasi. Dalam hal ini Allah telah Firman Allah dalam surah al ‘Ashr ayat 1-3 yang berbunyi:

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

Artinya:

”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr).

Menarik untuk kita mencoba mengulas tetang ayat pertama yaitu kata وَالْعَصْرِ . biasa kita dengar dan baca al ‘Ashr diterjemahkan dengan waktu, namun lebih jelasnya menurut Kata ( العصر ) al – ‘ashr terambil dari kata ( عصر ) ‘ashara yakni menekan sesuatu sehingga apa yang terdapat pada bagian terdalam dari padanya nampak ke permukaan atau keluar (memeras)

Sungguh luar biasa. Waktu yang kita jalani ini tidak akan kita memperoleh manfaatnya hanya dengan menjalankannya dengan santai-santai saja, namun butuh sebuah pengorbanan, kerja keras sehingga kita memperoleh kesuksesan dan kebahagiaan. Waktu apabila kita jalankan dengan semaksimal mungkin bagaikan maka kita akan memperoleh kenikmatannya. Waktu bagaikan kita mengambil mutiara di dasar laut.

Ada sebuah ungkapan yang Dikutib dari Kitab Ta’lim Muta’alim. Yang menarik untuk kita ketahui. Ungkapan ini dari seorang ulama fiqih, yang terkenal mazhabnya, yaitu Imam Syafii. Beliau berkata dalam sebuah syairnya yang berbunyi:

الا لا تنال العلم الا بستة         سأنبيك عن مجموعها ببيان

ذكاء وحرص واصطباروبلغة     وارشاد استاذ وطول زمان

Artinya:

Ingatlah, engkau tidak akan memperoleh ilmu yang bermanfaat kecuali dengan 6 syarat yaitu : cerdas, semangat, sabar, biaya, memuliakan ustadz, dan waktu yang lama

  1. Dzaka’ (Kecerdasan)

Sebagai seorang penuntut ilmu harus memiliki IQ yang cerdas, bisa menerima apa yang akan disampaikan oleh seorang pendidiknya. Mengerti apa yang diinginkan oleh seorang guru atau murobbi. Bukanlah orang yang menginginkan ilmu yang bermanfaat, tidak mengerti apa yang diinginkan oleh gurunya.

  1. Hirsh (semangat)

Selain kecerdasa, seorang penuntut ilmu juga harus memiliki semangat yang kuat. Pendirian yang kokoh, sehingga tidak mudah tergoyahkan oleh badai dan ombak ketika dalam menjalani masa belajar. Baik itu bagi pemuda maupun pemudi semuanya sama, harus memiliki semangat yang kuat agar dapat sehingga dapat melewati halangan dan rintangan yang menghadang.

  1. sabar

Dalam mencari ilmu pasti dihadapkan dengan masalah masalah yang dating silih berganti, yang terkadang tiada henti-hentinya, namu perlu diketahui bahwasanya Allah tidak akan memberikan ujian atau cobaan kepada hambanya melebihi dari kemampuan hambanya. Sehingga sekarang bagaimana kita menyikapi dan menghadapinya. Apakah dengan berpangku tangan atau dengan gagah dan berani.

  1. Bulghdh (biaya, ongkos)

Saat sekarang ini kita semua di hadapkan dengan perekonomian kapitalis, sehingga segala sesuatu dinilai dengan uang. Apa yang kita lakukan tidak akan terlepas dari uang. Begitupun juga seorang pelajar, ada kewajiban membayar SPP, SKS, Praktikum dan masih banyak lagi yang lainnya. Dan kebanyakannya juga semakin tinggi kualitas sekolah yang tempat menimba ilmu maka bayaran sekolahnya semakin mahal.

  1. Irsyadu ustadz (petunjuk dan bimbingan guru)

Seorang guru sangat dibutuhkan ketika kita dalam masa belajar. Baik itu belajar matimatika seni, bahasa maupun yang lainnya. seorang guru akan memberikan arahan dan bimbingan tentang hal apa yang harus dikerjakan, karena bila kita belajar tanpa guru bisa jadi kesesatanlah yang akan kita dapatkan. Guru juga akan menolong kita dalam memahami sebuah pelajaran. Oleh karena itu guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.

  1. Thulu Zaman (dalam jangka waktu yang panjang)

Dalam belajar kita juga harus mengalami sebuah proses yang lama, bukan hanya sekilas saja. Ilmu yang kita dapatkan dengan kila akan jauh berbeda dengan ilmu yang diperoleh dengan waktu yang lama. Nabi Muhammad Saw saja seorang arab nabi pilihan Allah, namun ketika allah menurunkan al Qur’an, tidak secara sekaligus, tidak hanya dalam waktu sekejap saja akan tetapi beliau menerima wahyu selama 22 th.

Semoga dengan tulisan ini menjadi nasehat bagi penulis sendiri agar terus semangan dalam menuntut ilmu bersabar atas halangan dan rintangan yang menghadang sehingga menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Di dunia maupun akhirat.

Dan bagi para pembaca semoga dapat menambah himmah dan semangan dalam belajar.memplaning setiap apa yang akan dikerjakanya. Tidak membuang waktu dengan sia-sia.